Posts

Suara dari Balik Pintu

Suara dari Balik Pintu --- # Bab 3: Suara dari Balik Pintu Hari ketiga kerja. Seharusnya aku sudah mulai terbiasa dengan rutinitas kantor: datang pagi, absen fingerprint, duduk di meja, menatap Excel , lalu pulang dengan mata perih. Tapi yang kurasakan justru sebaliknya. Semakin aku mencoba fokus, semakin bayangan pintu abu-abu itu muncul dalam pikiranku. Pagi ini, hujan deras mengguyur Jakarta . Lantai kantor berbau lembap, suara AC bercampur dengan gemericik air hujan dari jendela. Suasana yang biasanya ramai mendadak terasa lebih sunyi. Seakan-akan gedung ini sedang menyimpan sesuatu. Aku menyalakan komputer, mencoba mengerjakan data. Tapi baru sepuluh menit, aku mendengar sesuatu. Suara samar, seperti bisikan. “…Andi…” Aku tersentak, menoleh ke kanan-kiri. Tidak ada siapa-siapa. Rekan-rekanku sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dina mengetik cepat, Pak Budi entah ke mana. Suara itu terlalu jelas untuk disebut halusinasi. Aku mencoba menepis. Mungkin hanya pikiranku sendiri. Mu...

Bisik-Bisik di Lorong

Bisik-Bisik di Lorong --- # Bab 2: Bisik-Bisik di Lorong Hari kedua kerja biasanya lebih tenang, begitu katanya. Tapi bagiku, rasanya justru semakin aneh. Aku bangun pagi dengan pikiran penuh tentang pintu abu-abu itu. Mimpi semalam pun ikut-ikutan aneh: aku bermimpi berdiri di depan pintu itu, mengetuk, lalu terdengar suara berbisik dari baliknya. Suara lirih yang hanya berkata, *“Masuklah… kalau berani.”* Aku terbangun dengan keringat dingin. Rasanya tidak mungkin mimpi itu kebetulan. Pintu itu jelas sudah menempel di kepalaku. Sesampainya di kantor, aku mencoba fokus bekerja. Pagi ini tugasku adalah memasukkan data stok barang ke sistem. File Excel yang kuterima dari Pak Budi penuh angka. Aku mengetik dengan teliti, meski sebenarnya pikiranku separuh masih melayang ke pintu misterius itu. Sekitar jam sepuluh, aku izin ke toilet. Lorong menuju toilet melewati pantry. Dan di pantry itulah aku tanpa sengaja mendengar lagi percakapan yang membuat bulu kudukku meremang. Dina , si karya...

Hari Pertama Kerja

--- # Bab 1: Hari Pertama Kerja Pagi itu, matahari Jakarta seakan sudah tahu kalau aku akan memulai hari penting. Teriknya menusuk kulit meski jam masih menunjuk pukul tujuh lewat tiga puluh. Kemeja putih yang kupakai—hasil setrikaan buru-buru malam tadi—sudah mulai menunjukkan bercak kecil keringat di bagian punggung. Celana kain hitamku masih agak kaku, tanda baru sekali dipakai. Aku menatap cermin di lobi gedung perkantoran itu, menarik napas panjang, lalu berkata pada diriku sendiri, “Inilah, dunia orang kantoran. Jangan kelihatan kampungan, ya.” Gedung itu tidak terlalu tinggi, hanya sepuluh lantai, tapi bagiku terasa seperti istana. Pintu kacanya berlapis stiker bertuliskan “Selamat Datang”, tapi di balik sambutan hangat itu, ada satu tanda lain yang segera menyita perhatianku: **sebuah pintu abu-abu di sisi kiri lobi, dengan huruf kapital merah menyala bertuliskan “DILARANG MASUK SELAIN KARYAWAN”.** Aku berhenti sejenak, menatapnya. Ada hawa misterius dari pintu itu. Kenapa har...