Gerbang Terbuka
Gerbang Terbuka --- # Bab 10: Gerbang Terbuka Pintu abu-abu itu terbuka lebar, meski masih mengeluarkan bunyi logam yang aneh. Hawa dingin menyelimuti lorong, bercampur bau anyir besi karatan dan tanah lembap. Dari celah, cahaya redup muncul, tidak seperti lampu biasa. Warnanya berubah-ubah, seperti api biru dan hijau bercampur kabut tebal. Aku dan Dina berdiri saling menatap, napas tersengal. Tangan kami berpegangan erat, mencoba menahan ketakutan. Suara-suara itu kini jelas, tidak lagi berbisik: mereka berteriak, memanggil, menjerit, menuntut. *“Buka… Andi… Buka… kami menunggu!”* Aku menelan ludah. “Din… ini… ini gila. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi kalau kita masuk.” Dina menatapku, matanya berkilau meski takut. “Kalau kita nggak masuk, mereka nggak akan berhenti. Mereka akan terus menghantuimu… kita harus tahu apa yang ada di balik pintu itu.” Aku menatap kunci-kunci yang masih menggantung di tangan. Mereka bergetar, seolah hidup sendiri, siap membuka semua gerbang yang tersi...