Satpam Tua dan Kunci yang Hilang

 Satpam Tua dan Kunci yang Hilang


---


# Bab 6: Satpam Tua dan Kunci yang Hilang


Hari keenam di kantor. Suasana semakin terasa aneh, atau mungkin aku saja yang makin peka. Setiap kali aku melirik ke arah lorong belakang, aku merasa seperti ada bayangan yang bersembunyi.


Dina menyarankan agar aku berhenti mencari tahu. “Mas, kalau kamu terus-terusan kayak gini, aku takut kamu juga…” dia tak melanjutkan kalimatnya. Tapi aku tahu maksudnya: hilang seperti yang lain.


Namun, aku tidak bisa diam. Semakin aku mencoba menjauh, semakin pintu itu memanggil.


---


Siang itu, aku sengaja makan siang lebih lama di kantin, menunggu sebagian besar karyawan naik ke lantai atas untuk kembali bekerja. Di sana, aku melihat sosok yang jarang diperhatikan: Pak Arman, satpam tua yang sudah lebih dari dua puluh tahun bekerja di gedung ini. Rambutnya memutih, matanya cekung, dan kulitnya penuh keriput. Tapi tatapannya tajam, seperti menyimpan banyak cerita.


Aku mendekat sambil membawa kopi. “Pak, istirahat sebentar ya?”

Pak Arman tersenyum tipis. “Heh, anak baru. Biasanya kalian paling sibuk jam segini.”

Aku duduk di depannya. “Saya mau nanya, Pak. Tentang… pintu abu-abu di lorong belakang.”


Seketika, wajahnya berubah. Senyumnya lenyap. Ia menatapku lama, lalu menggeleng pelan. “Jangan pernah bicara soal itu, Nak.”

“Tapi Pak, saya sudah dengar suara-suara. Bahkan mimpi… mereka manggil saya. Saya juga nemu daftar nama karyawan yang hilang.”


Pak Arman menarik napas panjang, seperti ragu apakah harus bicara. Akhirnya ia bersuara pelan, hampir berbisik.

“Aku sudah jaga gedung ini sejak sebelum kamu lahir. Pintu itu sudah ada sejak awal. Bahkan waktu pembangunan, kontraktor juga nggak bisa menjelaskan kenapa ada ruangan yang nggak tercatat di blueprint.”


Aku merinding. Jadi bahkan sejak awal, pintu itu sudah misterius.

“Terus, Pak… apa yang ada di dalamnya?”

Pak Arman menatapku dengan mata sayu. “Aku nggak tahu pasti. Yang jelas, sejak dulu selalu ada yang ‘hilang’. Kadang karyawan, kadang teknisi. Mereka semua terakhir terlihat dekat pintu itu.”


Aku menelan ludah. “Apa nggak pernah ada yang coba buka, Pak?”

Wajahnya kaku. “Ada. Kepala satpam sebelum aku. Dia bawa kunci induk, coba pakai di pintu itu. Malam itu juga… dia nggak pernah keluar lagi.”


---


Kata-kata itu menancap dalam kepalaku. Malam itu aku tidak bisa berhenti berpikir tentang kunci. Kalau kepala satpam dulu pernah mencoba, berarti kunci itu ada—atau setidaknya pernah ada.


Aku memutuskan untuk kembali menemui Pak Arman saat shift malamnya. Gedung kantor kalau sudah jam sembilan malam jadi sepi. Hanya ada suara AC, sesekali lampu kedip, dan langkah kaki satpam patroli.


Aku menunggu di lobi sampai akhirnya melihat Pak Arman berjalan perlahan sambil membawa senter. Aku menghampirinya.

“Pak, maaf ganggu. Tapi… kalau boleh tahu, kunci itu sekarang ada di mana?”


Pak Arman berhenti. Ia memandangku lama, lalu menghela napas. “Kunci itu sudah hilang sejak lama. Setelah kejadian kepala satpam itu, perusahaan sengaja menghapus semua catatan tentangnya. Mereka ingin orang-orang berhenti kepo.”

“Jadi benar-benar hilang?” tanyaku cepat.

Ia menggeleng. “Aku nggak tahu. Mungkin ada yang masih menyimpannya. Mungkin juga sudah dibuang. Tapi satu hal yang aku yakin: pintu itu nggak bisa dibuka dengan cara biasa.”


Aku semakin penasaran. “Kenapa?”

Pak Arman menatapku serius. “Karena aku pernah coba las pintunya. Besi itu nggak mempan. Aku juga pernah lihat teknisi coba pakai gergaji baja, tetap nggak tergores sedikit pun. Seolah-olah pintu itu bukan dari bahan dunia ini.”


Aku tercekat. Tubuhku merinding mendengar ceritanya.


---


Sebelum aku bisa bertanya lebih lanjut, kami sama-sama mendengar sesuatu.

**Tok… tok… tok…**

Suara ketukan. Dari arah lorong belakang.


Kami berdua menoleh. Lorong itu gelap, hanya lampu redup yang menyala. Pintu abu-abu berdiri di ujung, seolah menunggu.


**Tok… tok… tok…**

Ketukan lagi. Kali ini lebih keras.


Aku menatap Pak Arman dengan wajah panik. “Pak, itu—”

“Diam!” bisiknya cepat.


Kami berdiri terpaku, menahan napas. Lalu… terdengar suara lain. Bukan lagi ketukan, tapi seperti kuku menggaruk besi. Panjang, menusuk, membuat bulu kuduk berdiri.


**Sreeeek… sreeeek…**


Aku hampir tidak sanggup menahan diri. Ada dorongan kuat untuk lari mendekat ke pintu itu. Tapi sebelum aku bergerak, Pak Arman mencengkeram lenganku erat.

“Jangan pernah ikutin suara itu, Nak. Itu cara mereka memancingmu.”


Wajahnya tegang, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Saat itu aku sadar, Pak Arman bukan hanya bicara. Dia benar-benar ketakutan.


---


Malam itu aku kembali ke kosan dengan tubuh gemetar. Aku berbaring di kasur, tapi suara-suara itu masih menggema di kepalaku.


Aku menutup mata, dan dalam gelap, aku bisa melihat pintu abu-abu itu. Tertutup rapat. Di baliknya, ada banyak tangan yang meraba-raba, mencari celah untuk keluar.


Dan di antara suara-suara itu, ada satu yang makin jelas, makin dekat:

*“Andi… giliranmu sudah dekat…”*


Aku terbangun dengan teriakan, dadaku sesak. Saat menoleh ke meja kecil di sebelah kasur, aku terdiam.


Di atas meja, ada sesuatu yang tidak pernah aku letakkan sebelumnya. Sebuah benda berkarat, dingin, panjang… **kunci tua.**


---


Comments

Popular posts from this blog

Pintu yang Mulai Terbuka

Pilihan yang Mustahil

Bayangan yang Mengikuti