Pintu yang Mulai Terbuka
---
# Bab 7: Pintu yang Mulai Terbuka
Kunci tua itu tergeletak di meja kosan, berkarat, dingin, dan berat seperti beban yang tak kasatmata. Aku menatapnya lama, jari-jariku ragu untuk menyentuh. Dari mana benda itu datang? Siapa yang menaruhnya? Atau… apakah aku sendiri yang membawanya dalam keadaan tidak sadar?
Kupungut kunci itu dengan hati-hati. Logamnya terasa dingin menusuk, seakan menyerap panas tubuhku. Ada ukiran samar di gagangnya, huruf-huruf yang tidak kukenal. Bukan huruf latin, bukan juga angka. Semacam simbol kuno.
Saat kupegang lebih erat, sebuah bisikan samar terdengar di telingaku.
*“Buka… kami tunggu…”*
Aku refleks menjatuhkannya. Kunci itu menghantam lantai dengan bunyi nyaring. Aku menutup mulut dengan tangan, takut suara itu terdengar ke tetangga kos. Tapi saat menunduk, aku melihat hal lain yang membuat darahku berhenti mengalir: lantai di sekeliling kunci itu mulai berembun, dingin, seperti ada hawa dari ruang pendingin yang keluar.
---
Hari berikutnya di kantor, aku hampir tidak bisa berkonsentrasi. Dina melihatku gelisah.
“Kamu makin pucat, Mas. Jangan bilang kamu masih mikirin pintu itu.”
Aku terdiam, lalu mengangguk pelan. “Aku… aku nemu kuncinya, Din.”
Mata Dina langsung melebar. “Apa?!”
Aku mengeluarkan kunci dari tas, memperlihatkannya dengan cepat sebelum menyimpannya lagi.
“Mas… buang aja! Jangan coba-coba!” katanya panik.
“Tapi ini kesempatan kita tahu apa yang sebenarnya terjadi,” jawabku, suaraku bergetar tapi ada tekad di dalamnya.
Dina menggeleng keras. “Semua orang yang pernah berusaha buka pintu itu… nggak pernah balik, Mas. Kamu mau nyusul?”
Aku menelan ludah. Memang benar, kata-katanya logis. Tapi sesuatu di dalam diriku, entah apa, mendorongku untuk mencoba.
---
Malam harinya, aku kembali ke kantor. Kali ini dengan alasan lembur. Sebagian besar karyawan sudah pulang. Hanya beberapa lampu menyala, menciptakan bayangan panjang di dinding.
Aku berjalan pelan ke lorong belakang. Setiap langkah terdengar menggema. Pintu abu-abu itu berdiri di ujung, lebih kokoh dari yang pernah kulihat. Entah mengapa, malam ini pintu itu terasa… bernafas.
Aku menggenggam kunci tua itu. Tangan gemetar, keringat dingin menetes. Saat kunci mendekati lubang, terdengar suara lirih dari balik pintu.
“…buka… buka… buka…”
Aku hampir menjatuhkan kunci, tapi rasa penasaran lebih kuat. Aku memasukkannya ke lubang kunci. Aneh—meskipun kunci tua, ukurannya pas sekali. Seolah memang diciptakan untuk pintu ini.
Saat kuputar perlahan, suara logam berderak. **Krek… krek…**
Lalu terdengar bunyi “klik” yang dalam.
Pintu bergetar halus. Dari sela-sela pinggirnya, keluar hawa dingin menusuk, bercampur bau anyir besi karatan. Lampu lorong berkedip-kedip, seakan listrik terganggu.
Aku mundur setengah langkah, napas memburu. Tapi pintu itu mulai terbuka—sangat pelan, hanya beberapa centimeter. Cukup untuk melihat kegelapan pekat di baliknya.
Dari celah itu, mata-mata muncul. Sepasang mata pucat, berkilau dalam gelap, menatapku langsung.
Aku terhuyung mundur. Tapi sebelum aku bisa kabur, sebuah tangan pucat keluar, meraih pintu, mencoba membuka lebih lebar. Suaranya serak, berlapis-lapis seperti banyak orang bicara bersamaan:
*“Terima kasih, Andi…”*
Aku panik, segera mendorong pintu itu dengan sekuat tenaga, menutupnya kembali. Suara-suara di baliknya menjerit serempak, seperti ribuan orang kesakitan. Lorong bergetar, lampu pecah satu per satu, menyisakan gelap total.
Dengan jantung hampir meledak, aku berhasil memutar kunci ke arah sebaliknya. “Klik!” Pintu terkunci lagi. Suara-suara itu mereda, hanya tersisa bisikan jauh.
Aku jatuh terduduk di lantai, tubuh lemas, tangan masih menggenggam kunci.
---
Saat aku pikir semuanya selesai, aku mendengar sesuatu yang lebih mengerikan. Tepat di samping telingaku, suara berbisik lembut, sangat dekat, padahal aku sendirian di lorong itu.
*“Sekarang… kamu sudah jadi bagian dari kami.”*
Aku terperanjat, menoleh ke segala arah. Tidak ada siapa-siapa. Lorong kosong. Tapi bisikan itu masih menggema di kepalaku.
Aku tahu, sejak saat itu, sesuatu telah berubah. Bukan hanya pintunya yang terbuka sedikit, tapi juga sesuatu di dalam diriku.
---
Malam itu di kos, aku tidak bisa tidur. Mataku menatap langit-langit kamar, tapi pikiranku terus kembali ke pintu itu. Aku mendengar suara langkah di luar kamar, padahal semua penghuni kos lain sudah pulang kampung.
Ketika aku bangkit dan mengintip lewat jendela, aku melihat sosok berdiri di halaman kos. Pucat, tinggi, wajahnya samar. Tapi aku bisa mengenali seragamnya. Itu seragam kantor—seragam lama, model yang sudah tidak dipakai lagi.
Sosok itu menatapku dari bawah. Mulutnya bergerak, membentuk kata-kata tanpa suara.
Aku bisa membacanya dengan jelas:
*“Teruskan… buka lebih lebar…”*
---
Comments
Post a Comment