Pilihan yang Mustahil


---


# Bab 9: Pilihan yang Mustahil


Hari kesembilan sejak aku pertama kali bekerja di kantor itu. Rasanya seolah sudah bertahun-tahun. Wajahku di cermin tampak lebih tua, mataku cekung, kulit pucat. Aku nyaris tidak tidur. Suara-suara itu tidak pernah berhenti, bahkan di siang bolong.


Enam kunci kini selalu ada di tasku, meski aku pernah mencoba membuangnya ke kali. Anehnya, setiap kali aku membuka tas, mereka kembali. Seakan-akan aku tidak bisa melepaskan diri.


---


Pagi itu, Dina menghampiriku dengan wajah khawatir.

“Andi, aku serius. Kamu harus cerita semua sama HRD atau bahkan polisi. Ini udah nggak masuk akal.”

Aku menatapnya lemah. “Din… kalau aku cerita, mereka bakal anggap aku gila. Lagi pula, apa polisi bisa lawan sesuatu yang bahkan bukan dari dunia ini?”


Dina terdiam. Matanya berkaca-kaca, seolah ingin menolongku tapi tidak tahu caranya.

“Mas, aku cuma takut suatu hari kamu juga hilang. Aku nggak mau jadi saksi lagi.”

“‘Saksi lagi’?” ulangku cepat.


Dina menunduk, suaranya gemetar. “Aku dulu punya teman, namanya Sinta. Kami sama-sama masuk kerja bareng. Dia… juga sering cerita soal suara-suara. Aku pikir dia stres. Beberapa minggu kemudian, dia hilang. Sampai sekarang, nggak pernah ditemukan.”


Aku tercekat. Jadi benar, ini semua pola berulang. Dan aku… sekarang jadi bagian dari pola itu.


---


Sore hari, aku memberanikan diri menemui Pak Arman lagi. Kali ini aku langsung mengeluarkan kunci-kunci itu.

“Pak, saya udah coba buang. Tapi mereka balik lagi. Apa artinya ini?”


Pak Arman menatap kunci-kunci itu dengan mata penuh ketakutan. Tangannya sedikit gemetar.

“Ini… bukan kunci biasa. Setiap kunci membuka pintu yang berbeda. Pintu yang kamu lihat di lorong itu cuma satu dari banyak gerbang.”


Aku membeku. “Berarti… masih ada pintu lain?”

Pak Arman mengangguk pelan. “Dan kalau semua terbuka… aku nggak yakin dunia ini masih sama.”


Aku merasakan darahku berdesir. Tiba-tiba, aku sadar bahwa apa yang kualami bukan sekadar misteri kantor. Ini jauh lebih besar.


“Pak, kalau begitu… apa saya bisa menghancurkan kunci-kunci ini?”

Pak Arman menatapku lama. “Kalau kamu coba, mereka pasti marah. Dan kalau mereka marah… mungkin yang hilang bukan cuma kamu. Tapi semua orang di sekitar kamu.”


---


Malamnya, aku duduk di kamar kos. Enam kunci itu kuletakkan di meja, berjejer. Aku menatapnya dengan perasaan campur aduk.


Aku harus memilih.


1. **Menghancurkan kunci-kunci itu.** Risiko: mereka marah, mungkin menyerang semua orang.

2. **Membuka semua pintu.** Risiko: dunia berubah, mungkin kiamat.

3. **Menyimpan dan tidak melakukan apa-apa.** Risiko: aku terus disiksa sampai perlahan-lahan gila.


Tidak ada pilihan aman.


Aku mengambil satu kunci, menggenggamnya erat. Di kepalaku, suara itu langsung menggema.

*“Buka… jangan hancurkan… kami tunggu…”*


Aku bangkit, mengambil palu kecil yang ada di kos. Dengan gemetar, aku meletakkan satu kunci di lantai dan mengangkat palu.


Begitu aku menghantamkan palu, ruangan langsung bergetar. Lampu kamar padam, dinding retak halus. Dari retakan itu, keluar cairan hitam kental, menetes seperti darah.


Aku menjatuhkan palu, ketakutan setengah mati. Kunci itu… tetap utuh. Bahkan tanpa goresan sedikit pun.


Suara-suara dari luar kamar terdengar, teriakan panjang seperti puluhan orang meronta. Jendela bergetar keras, hampir pecah.


Aku menutup telinga, berteriak, “Berhenti! Cukup!”


Perlahan, suara itu reda. Lampu kembali menyala. Cairan hitam lenyap seakan tidak pernah ada. Tapi aku tahu, mereka kini lebih sadar akan keberadaanku.


---


Keesokan harinya di kantor, aku merasa semua mata memandangku. Bukan rekan kerja, tapi bayangan-bayangan di sudut ruangan. Aku bisa melihat sekilas wajah pucat menempel di kaca jendela, meski lantai kami ada di ketinggian.


Dina mencoba bicara padaku. “Mas, kamu nggak bisa terus kayak gini. Kita harus cari cara.”

Aku menggeleng. “Din… udah nggak ada jalan. Mereka sudah memilihku. Kalau aku berhenti, mereka nggak akan.”


Dina menggenggam tanganku, suaranya lirih. “Kalau begitu, jangan hadapi sendirian. Apa pun itu… aku ikut.”


Aku menatapnya, ragu. “Din, kalau kamu ikut, bisa jadi kamu juga—”

“Aku nggak peduli,” potongnya cepat. “Aku nggak mau kehilangan lagi.”


---


Malam itu, aku dan Dina nekat kembali ke kantor setelah semua orang pulang. Lorong belakang sepi, hanya lampu berkedip yang menyala.


Aku mengeluarkan satu kunci, memasukkannya ke pintu abu-abu itu. Dina gemetar, tapi tetap berdiri di sampingku.


Sebelum kuputar kunci, aku menatapnya. “Kalau aku gagal… jangan buka pintu lain. Janji sama aku.”

Air mata Dina jatuh. Ia mengangguk pelan.


Lalu… aku memutar kunci itu.


Suara logam berderak lagi. Lorong bergetar. Dari balik pintu, suara-suara serentak menjerit bahagia.

*“Akhirnya… semakin dekat…”*


Pintu mulai terbuka sedikit lebih lebar dari sebelumnya. Hawa dingin menyapu wajah kami, membuat bulu kuduk berdiri.


Aku menahan napas, tahu bahwa setelah ini… tidak akan ada jalan kembali.


---


Comments

Popular posts from this blog

Pintu yang Mulai Terbuka

Bayangan yang Mengikuti