Bayangan yang Mengikuti


---


# Bab 8: Bayangan yang Mengikuti


Sejak malam itu, aku tahu hidupku tidak lagi sama. Pintu abu-abu mungkin sudah tertutup, tapi sesuatu berhasil keluar. Sesuatu yang kini menempel padaku.


Aku merasakannya pertama kali saat berangkat kerja. Jalanan pagi biasanya ramai, suara klakson dan pedagang kaki lima bercampur menjadi hiruk pikuk khas kota. Tapi hari itu, meski di tengah keramaian, aku merasa sendirian. Orang-orang berjalan tanpa menoleh, seakan aku tak terlihat.


Aku berhenti di lampu merah, menatap bayangan tubuhku di aspal. Matahari terang, tapi bayanganku aneh. Terlalu panjang. Bergerak sedikit lebih lambat daripada gerakanku sendiri.


Aku berkedip, mencoba meyakinkan diri kalau itu hanya halusinasi. Tapi saat aku melangkah lagi, bayangan itu menoleh padaku. Bukan menoleh ke arah jalan, tapi benar-benar menoleh balik.


---


Di kantor, Dina langsung tahu ada yang salah.

“Mas, kamu nggak apa-apa? Mukamu pucat banget.”

Aku hanya menggeleng. Aku tidak bisa bilang soal bayangan tadi, dia pasti mengira aku sudah gila.


Kami duduk di pantry. Dina berusaha menenangkanku. “Mas, denger ya… kalau mereka sudah ngikutin kamu sampai luar kantor, artinya kamu sudah ditandai. Jalan satu-satunya ya berhenti. Jangan pernah mendekati pintu itu lagi.”


Aku menelan ludah. “Kalau memang begitu, kenapa mereka masih manggil aku? Kenapa namaku disebut?”

Dina diam, lalu menunduk. “Mungkin… karena kamu yang dipilih.”


Kata-kata itu membuat perutku mual. Dipilih? Untuk apa?


---


Sore hari, aku memutuskan untuk pulang lebih cepat. Aku butuh istirahat. Tapi di perjalanan pulang, perasaan aneh itu kembali.


Di halte bus, aku menunggu sambil menunduk, memainkan ponsel. Saat aku mengangkat kepala, aku hampir menjerit. Di seberang jalan, ada enam orang berdiri berjejer, semuanya memakai seragam kantor. Wajah mereka pucat, kosong, matanya hitam.


Mereka menatapku tanpa berkedip. Orang-orang lain berjalan lewat tanpa peduli, seolah tidak bisa melihat apa yang kulihat.


Aku buru-buru naik bus, berharap bisa meninggalkan mereka. Tapi saat bus melaju, aku menoleh ke jendela. Sosok-sosok itu masih ada, berlari sejajar dengan bus, langkah mereka tak terdengar tapi terlalu cepat untuk manusia biasa.


Aku menutup mata, menunduk dalam-dalam. Tanganku bergetar, napasku memburu. Aku hampir yakin kalau aku mulai gila.


---


Malam itu di kos, aku mencoba tidur lebih cepat. Tapi tepat pukul 2 pagi, aku terbangun karena suara ketukan di pintu kamar kosku.


**Tok… tok… tok…**


Aku menahan napas, tidak berani bergerak. Siapa yang datang jam segini?

**Tok… tok… tok…**


Dengan berani, aku akhirnya mendekat. Aku menempelkan telinga ke pintu. Dari luar terdengar suara serak, lirih, seperti banyak orang bicara sekaligus.

*“Andi… buka… ini kami…”*


Aku melangkah mundur, jantung berdegup keras. Suara itu bukan satu orang. Itu banyak suara, bercampur, bergema, seperti berasal dari lorong panjang yang tidak berujung.


Tiba-tiba, ketukan berubah menjadi hentakan keras. **DUAK! DUAK!** Pintu kamar kosku bergetar, hampir jebol. Aku jatuh terduduk, menatap pintu dengan mata membelalak.


Lalu, hening. Tidak ada suara lagi.


Dengan tangan gemetar, aku berusaha mengintip lewat lubang pintu. Gelap. Kosong. Tidak ada siapa-siapa di luar. Tapi saat aku menunduk, sesuatu bergerak. Sebuah mata pucat, besar, menempel langsung di lubang itu, menatap balik padaku.


Aku menjerit, terjatuh ke lantai. Saat kupandangi lagi lubang pintu, sudah kosong.


---


Aku tidak tidur sampai pagi. Saat matahari akhirnya muncul, aku merasa sedikit lega. Tapi begitu melihat meja kecil di samping kasur, aku nyaris pingsan.


Kunci tua itu kini tidak hanya satu. Ada enam kunci. Semuanya berkarat, dengan ukiran aneh yang berbeda-beda.


Dan di bawahnya, ada secarik kertas kusut, dengan tulisan merah seperti bekas darah:

*“Buka semua pintu.”*


---


Esoknya aku nekat bertanya lagi pada Pak Arman. Aku menunggunya di lobi siang hari, berharap orang-orang masih ramai sehingga aku merasa aman.


“Pak, kenapa mereka ngikutin saya?” tanyaku dengan suara serak.

Pak Arman menatapku dalam-dalam, wajahnya penuh kelelahan. “Nak, aku pernah bilang, pintu itu bukan sekadar ruangan. Itu gerbang. Mereka yang hilang… bukan mati. Mereka terperangkap di sana.”

“Lalu kenapa mereka manggil saya?”

Pak Arman menghela napas panjang. “Karena kamu sudah membuka celah. Sekali saja pintu itu terbuka, kamu terikat dengan mereka. Dan mereka tidak akan berhenti sampai kamu membuka selebar-lebarnya.”


Aku terdiam, tubuhku gemetar. Aku merasa dunia di sekitarku semakin mengecil, menjeratku tanpa jalan keluar.


Pak Arman menepuk bahuku, suaranya pelan tapi berat.

“Nak… mungkin jalan satu-satunya bukan menghindar. Tapi memilih: kamu mau jadi orang yang menutup pintu itu selamanya… atau jadi orang yang membukanya habis-habisan.”


---


Malam itu, sebelum tidur, aku menatap enam kunci di meja. Mereka berkilau samar dalam cahaya lampu redup, seolah menungguku.


Di luar jendela, aku melihat lagi sosok-sosok pucat berdiri di halaman kos. Kali ini jumlahnya jauh lebih banyak. Mereka semua menatapku.


Dan di kepalaku, bisikan itu semakin jelas, seperti paduan suara:

*“Buka, Andi… buka semua pintu… kami sudah menunggu terlalu lama…”*


Aku menutup telinga, tapi suara itu tidak hilang.

Aku sadar, aku tidak punya banyak waktu lagi.


---


Comments

Popular posts from this blog

Pintu yang Mulai Terbuka

Pilihan yang Mustahil