Posts

Gerbang Terbuka

Gerbang Terbuka --- # Bab 10: Gerbang Terbuka Pintu abu-abu itu terbuka lebar, meski masih mengeluarkan bunyi logam yang aneh. Hawa dingin menyelimuti lorong, bercampur bau anyir besi karatan dan tanah lembap. Dari celah, cahaya redup muncul, tidak seperti lampu biasa. Warnanya berubah-ubah, seperti api biru dan hijau bercampur kabut tebal. Aku dan Dina berdiri saling menatap, napas tersengal. Tangan kami berpegangan erat, mencoba menahan ketakutan. Suara-suara itu kini jelas, tidak lagi berbisik: mereka berteriak, memanggil, menjerit, menuntut. *“Buka… Andi… Buka… kami menunggu!”* Aku menelan ludah. “Din… ini… ini gila. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi kalau kita masuk.” Dina menatapku, matanya berkilau meski takut. “Kalau kita nggak masuk, mereka nggak akan berhenti. Mereka akan terus menghantuimu… kita harus tahu apa yang ada di balik pintu itu.” Aku menatap kunci-kunci yang masih menggantung di tangan. Mereka bergetar, seolah hidup sendiri, siap membuka semua gerbang yang tersi...

Pilihan yang Mustahil

--- # Bab 9: Pilihan yang Mustahil Hari kesembilan sejak aku pertama kali bekerja di kantor itu. Rasanya seolah sudah bertahun-tahun. Wajahku di cermin tampak lebih tua, mataku cekung, kulit pucat. Aku nyaris tidak tidur. Suara-suara itu tidak pernah berhenti, bahkan di siang bolong. Enam kunci kini selalu ada di tasku, meski aku pernah mencoba membuangnya ke kali. Anehnya, setiap kali aku membuka tas, mereka kembali. Seakan-akan aku tidak bisa melepaskan diri. --- Pagi itu, Dina menghampiriku dengan wajah khawatir. “Andi, aku serius. Kamu harus cerita semua sama HRD atau bahkan polisi. Ini udah nggak masuk akal.” Aku menatapnya lemah. “Din… kalau aku cerita, mereka bakal anggap aku gila. Lagi pula, apa polisi bisa lawan sesuatu yang bahkan bukan dari dunia ini?” Dina terdiam. Matanya berkaca-kaca, seolah ingin menolongku tapi tidak tahu caranya. “Mas, aku cuma takut suatu hari kamu juga hilang. Aku nggak mau jadi saksi lagi.” “‘Saksi lagi’?” ulangku cepat. Dina menunduk, suaranya gem...

Bayangan yang Mengikuti

--- # Bab 8: Bayangan yang Mengikuti Sejak malam itu, aku tahu hidupku tidak lagi sama. Pintu abu-abu mungkin sudah tertutup, tapi sesuatu berhasil keluar. Sesuatu yang kini menempel padaku. Aku merasakannya pertama kali saat berangkat kerja. Jalanan pagi biasanya ramai, suara klakson dan pedagang kaki lima bercampur menjadi hiruk pikuk khas kota. Tapi hari itu, meski di tengah keramaian, aku merasa sendirian. Orang-orang berjalan tanpa menoleh, seakan aku tak terlihat. Aku berhenti di lampu merah, menatap bayangan tubuhku di aspal. Matahari terang, tapi bayanganku aneh. Terlalu panjang. Bergerak sedikit lebih lambat daripada gerakanku sendiri. Aku berkedip, mencoba meyakinkan diri kalau itu hanya halusinasi. Tapi saat aku melangkah lagi, bayangan itu menoleh padaku. Bukan menoleh ke arah jalan, tapi benar-benar menoleh balik. --- Di kantor, Dina langsung tahu ada yang salah. “Mas, kamu nggak apa-apa? Mukamu pucat banget.” Aku hanya menggeleng. Aku tidak bisa bilang soal bayangan tadi...

Pintu yang Mulai Terbuka

--- # Bab 7: Pintu yang Mulai Terbuka Kunci tua itu tergeletak di meja kosan, berkarat, dingin, dan berat seperti beban yang tak kasatmata. Aku menatapnya lama, jari-jariku ragu untuk menyentuh. Dari mana benda itu datang? Siapa yang menaruhnya? Atau… apakah aku sendiri yang membawanya dalam keadaan tidak sadar? Kupungut kunci itu dengan hati-hati. Logamnya terasa dingin menusuk, seakan menyerap panas tubuhku. Ada ukiran samar di gagangnya, huruf-huruf yang tidak kukenal. Bukan huruf latin , bukan juga angka. Semacam simbol kuno . Saat kupegang lebih erat, sebuah bisikan samar terdengar di telingaku. *“Buka… kami tunggu…”* Aku refleks menjatuhkannya. Kunci itu menghantam lantai dengan bunyi nyaring. Aku menutup mulut dengan tangan, takut suara itu terdengar ke tetangga kos. Tapi saat menunduk, aku melihat hal lain yang membuat darahku berhenti mengalir: lantai di sekeliling kunci itu mulai berembun, dingin, seperti ada hawa dari ruang pendingin yang keluar. --- Hari berikutnya di kant...

Satpam Tua dan Kunci yang Hilang

 Satpam Tua dan Kunci yang Hilang --- # Bab 6: Satpam Tua dan Kunci yang Hilang Hari keenam di kantor. Suasana semakin terasa aneh, atau mungkin aku saja yang makin peka. Setiap kali aku melirik ke arah lorong belakang, aku merasa seperti ada bayangan yang bersembunyi. Dina menyarankan agar aku berhenti mencari tahu. “Mas, kalau kamu terus-terusan kayak gini, aku takut kamu juga…” dia tak melanjutkan kalimatnya. Tapi aku tahu maksudnya: hilang seperti yang lain. Namun, aku tidak bisa diam. Semakin aku mencoba menjauh, semakin pintu itu memanggil. --- Siang itu, aku sengaja makan siang lebih lama di kantin, menunggu sebagian besar karyawan naik ke lantai atas untuk kembali bekerja. Di sana, aku melihat sosok yang jarang diperhatikan: Pak Arman , satpam tua yang sudah lebih dari dua puluh tahun bekerja di gedung ini. Rambutnya memutih, matanya cekung, dan kulitnya penuh keriput. Tapi tatapannya tajam, seperti menyimpan banyak cerita. Aku mendekat sambil membawa kopi. “Pak, istirahat ...

Nama-Nama yang Hilang

--- # Bab 5: Nama-Nama yang Hilang Malam itu aku hampir tidak bisa tidur. Suara-suara dari balik pintu masih terngiang di telingaku. Puluhan bisikan yang menyebut namaku, seolah-olah mereka semua mengenalku, seolah aku adalah bagian dari mereka. Aku berputar-putar di kasur, mencoba menutup mata. Tapi begitu tertidur, mimpi aneh langsung datang. Aku berdiri di sebuah ruangan gelap, hanya diterangi cahaya lampu redup. Dindingnya putih kotor, bercak-bercak cokelat memenuhi sudut-sudutnya. Ada ranjang besi berkarat berjejer, dan di atasnya… bayangan manusia. Wajah-wajah pucat, mata kosong, mulut bergerak tanpa suara. Mereka semua menunjuk ke arahku. Lalu, salah satu dari mereka mendekat. Wajahnya samar, tapi aku bisa membaca bibirnya yang bergerak: *“Buka pintunya. Kami terjebak di sini.”* Aku terbangun dengan teriakan, tubuh basah oleh keringat. Jam menunjukkan pukul tiga pagi. Dadaku naik-turun, napasku memburu. Mimpi itu terlalu nyata. Terlalu rinci untuk sekadar bunga tidur. --- Hari k...

Jejak Lama

--- # Bab 4: Jejak Lama Pagi keempat di kantor. Aku datang lebih awal, berharap bisa menenangkan diri sebelum orang lain berdatangan. Tapi begitu melangkah ke dalam gedung, aku langsung merasa diawasi. Entah kenapa, seolah-olah CCTV yang menggantung di sudut ruangan itu bukan sekadar kamera, melainkan mata yang menatap langsung ke dalam diriku. Aku mencoba menepis perasaan itu. “Santai, Andi. Jangan lebay,” gumamku. Tapi jujur, setelah kejadian semalam—ketukan, bisikan, suara yang menyebut namaku—aku tidak bisa lagi berpura-pura kalau semua baik-baik saja. Aku duduk di meja kerja, menyalakan komputer, tapi pikiranku kosong. Excel yang biasanya penuh angka kini hanya terlihat seperti barisan simbol tak berarti. Yang ada di kepalaku hanya satu: **pintu abu-abu itu tahu namaku.** Sekitar jam sembilan, Dina datang. Dia melihat wajahku yang pucat dan langsung menyipitkan mata. “Kamu kenapa? Sakit?” Aku ragu sejenak, lalu berbisik, “Din… aku dengar suara lagi semalam. Dari balik pintu itu....