Nama-Nama yang Hilang
---
# Bab 5: Nama-Nama yang Hilang
Malam itu aku hampir tidak bisa tidur. Suara-suara dari balik pintu masih terngiang di telingaku. Puluhan bisikan yang menyebut namaku, seolah-olah mereka semua mengenalku, seolah aku adalah bagian dari mereka.
Aku berputar-putar di kasur, mencoba menutup mata. Tapi begitu tertidur, mimpi aneh langsung datang.
Aku berdiri di sebuah ruangan gelap, hanya diterangi cahaya lampu redup. Dindingnya putih kotor, bercak-bercak cokelat memenuhi sudut-sudutnya. Ada ranjang besi berkarat berjejer, dan di atasnya… bayangan manusia. Wajah-wajah pucat, mata kosong, mulut bergerak tanpa suara. Mereka semua menunjuk ke arahku.
Lalu, salah satu dari mereka mendekat. Wajahnya samar, tapi aku bisa membaca bibirnya yang bergerak:
*“Buka pintunya. Kami terjebak di sini.”*
Aku terbangun dengan teriakan, tubuh basah oleh keringat. Jam menunjukkan pukul tiga pagi. Dadaku naik-turun, napasku memburu. Mimpi itu terlalu nyata. Terlalu rinci untuk sekadar bunga tidur.
---
Hari kelima kerja, aku datang dengan wajah lelah. Dina langsung memperhatikanku. “Kamu kelihatan kayak nggak tidur semalaman.”
Aku hanya mengangguk. “Aku mimpi tentang mereka.”
Dina langsung tegang. “Mereka?”
“Orang-orang yang hilang. Mereka minta aku buka pintu itu.”
Dina menatapku lama, lalu menunduk. “Mas… aku udah denger cerita kayak gitu sebelumnya.”
Aku menelan ludah. “Maksudmu?”
“Ada karyawan lama, namanya Rudi. Dia juga bilang sering mimpi yang sama. Orang-orang pucat, ruangan putih, suara yang manggil. Beberapa hari setelah itu… dia hilang. Sampai sekarang nggak ketemu.”
Aku terdiam. Jantungku berdetak kencang. Jadi, aku bukan orang pertama yang mengalami ini.
“Din,” kataku hati-hati, “kamu tahu ada catatan atau data tentang mereka? Orang-orang yang hilang itu?”
Dina menggigit bibir. “Ada, tapi nggak semua orang boleh lihat. HRD simpan arsipnya.”
Aku menarik napas dalam. “Aku harus lihat.”
---
Siangnya, aku mencari cara menyelinap ke ruang HRD. Untungnya, Mbak Sari sedang sibuk meeting di lantai lain. Aku berpura-pura mencari formulir cuti, lalu diam-diam membuka lemari arsip.
Di dalamnya, ada beberapa map tebal. Aku mencari dengan cepat, dan mataku menangkap label bertuliskan **“DATA KARYAWAN NON-AKTIF.”**
Aku membuka map itu. Deretan nama tertera, lengkap dengan status: resign, kontrak habis, pindah. Tapi ada satu kolom yang membuatku merinding: **“Keterangan Khusus.”**
Beberapa nama tidak punya keterangan jelas. Hanya satu kata: **“Hilang.”**
Aku menelusuri daftar itu. Ada enam nama dalam lima tahun terakhir. Semua tercatat sebagai karyawan tetap. Semua “hilang tanpa jejak.”
Di antara nama itu, ada satu yang langsung membuat napasku tercekat: **Rudi Santoso.** Nama yang tadi disebut Dina.
Tanganku bergetar. Jadi benar, dia bukan sekadar gosip. Mereka ada, mereka nyata.
Aku buru-buru menutup map itu dan mengembalikannya ke tempat semula. Tapi dalam hati, aku sudah tahu: ada pola. Setiap beberapa tahun, selalu ada orang yang hilang. Dan semuanya, entah bagaimana, pasti berkaitan dengan pintu itu.
---
Sore harinya, aku mencoba menahan diri untuk tidak mendekati lorong belakang. Tapi seakan ada kekuatan tak terlihat yang menarikku.
Aku melangkah perlahan, sampai akhirnya kembali berdiri di depan pintu abu-abu itu. Kali ini aku membawa catatan kecil yang kutemukan sebelumnya, dan kutempelkan telingaku ke pintu.
Awalnya hening. Lalu, samar-samar, terdengar suara.
“…Rudi…”
“…Sinta…”
“…Bima…”
Aku tersentak. Suara-suara itu menyebut nama. Nama-nama yang sama persis dengan daftar karyawan hilang di map tadi.
Dadaku berdegup kencang. Mereka… mereka ada di balik pintu ini.
Tiba-tiba, suara lain muncul. Lebih keras, lebih dekat.
“…Andi…”
Aku mundur dengan wajah pucat. Tidak hanya nama-nama yang hilang, tapi namaku kini ikut dipanggil.
---
Malam itu aku kembali gelisah di kosan. Aku membuka buku catatan kecil, menuliskan semua yang kualami: bisikan, mimpi, nama-nama hilang. Aku sadar satu hal: mereka tidak hanya ingin didengar. Mereka ingin **keluar.**
Pertanyaannya: kenapa aku? Kenapa mereka memilihku?
Aku menatap jendela yang tertutup tirai, mendengarkan suara angin malam. Lalu aku berbisik pada diriku sendiri, hampir seperti sumpah:
“Aku akan cari tahu kebenarannya. Kalau memang pintu itu adalah penjara, aku harus tahu apa yang mereka sembunyikan.”
Tapi jauh di lubuk hatiku, ada suara kecil yang berkata: **atau mungkin… justru pintu itu adalah jebakan.**
---
Comments
Post a Comment