Jejak Lama


---


# Bab 4: Jejak Lama


Pagi keempat di kantor. Aku datang lebih awal, berharap bisa menenangkan diri sebelum orang lain berdatangan. Tapi begitu melangkah ke dalam gedung, aku langsung merasa diawasi. Entah kenapa, seolah-olah CCTV yang menggantung di sudut ruangan itu bukan sekadar kamera, melainkan mata yang menatap langsung ke dalam diriku.


Aku mencoba menepis perasaan itu. “Santai, Andi. Jangan lebay,” gumamku. Tapi jujur, setelah kejadian semalam—ketukan, bisikan, suara yang menyebut namaku—aku tidak bisa lagi berpura-pura kalau semua baik-baik saja.


Aku duduk di meja kerja, menyalakan komputer, tapi pikiranku kosong. Excel yang biasanya penuh angka kini hanya terlihat seperti barisan simbol tak berarti. Yang ada di kepalaku hanya satu: **pintu abu-abu itu tahu namaku.**


Sekitar jam sembilan, Dina datang. Dia melihat wajahku yang pucat dan langsung menyipitkan mata. “Kamu kenapa? Sakit?”

Aku ragu sejenak, lalu berbisik, “Din… aku dengar suara lagi semalam. Dari balik pintu itu. Suara yang manggil namaku.”


Wajah Dina langsung berubah. Ia menoleh kanan-kiri, memastikan tidak ada yang mendengar, lalu mendekat. “Kamu gila ya? Kenapa kamu masih mendekat ke situ?!”

“Aku nggak bisa nahan. Rasanya… pintu itu kayak manggil aku.”

“Berhenti sekarang juga, Mas! Kalau kamu terus penasaran, kamu bakal—” Dina terhenti, menggigit bibir.

“Bakal apa?” desakku.

Dia menunduk, lalu berbisik lirih, “Kamu bakal hilang kayak mereka.”


Aku tercekat. “Mereka? Maksudnya… ada lebih dari satu orang?”

Dina menutup mulut, jelas menyesal sudah bicara. Ia hanya berdiri dan kembali ke mejanya, pura-pura sibuk.


Aku menatapnya lama, tapi tak berani mendesak lebih jauh. Namun kata-kata itu sudah cukup untuk membuatku yakin: **aku tidak sendirian. Ada orang lain sebelum aku yang pernah terlibat dengan pintu itu.**


---


Siang hari, aku sengaja mencari alasan untuk turun ke lantai dasar. Di lobi, aku menghampiri satpam tua yang sejak hari pertama kulihat berjaga. Namanya Pak Arman. Rambutnya sudah memutih, wajahnya keras, tapi matanya menyimpan sesuatu—semacam beban rahasia.


“Pak,” kataku hati-hati, “boleh nanya sesuatu?”

Beliau menatapku curiga. “Tentang apa?”

“Pintu abu-abu di dekat gudang itu…”


Sekejap wajah Pak Arman berubah. Ia langsung melirik kanan-kiri, lalu mendesah panjang. “Nak, kalau kamu masih mau kerja tenang di sini, jangan pernah sebut pintu itu lagi. Anggap nggak ada.”

“Tapi kenapa, Pak? Apa isinya?”

Pak Arman menatapku lama. “Kamu masih baru. Kamu belum tahu sejarah gedung ini.”


Aku menelan ludah. “Memangnya ada apa dengan sejarahnya?”


Pak Arman menunduk, lalu berbisik, “Gedung ini dulu bukan kantor. Dulunya… rumah sakit.”


Aku terdiam. Rasanya seperti baru mendengar plot twist dalam film horor. Rumah sakit?


“Dulu, lantai dasar sampai lantai tiga dipakai buat ruang rawat. Lantai empat sampai enam ruang operasi. Tapi ada satu ruangan khusus… ruang isolasi. Tempat pasien dengan penyakit aneh yang nggak pernah jelas diagnosisnya. Katanya… mereka suka teriak-teriak malam-malam, bilang lihat sesuatu dari balik pintu.”


Aku merinding. “Terus?”

“Rumah sakit itu bangkrut. Banyak pasien hilang misterius. Orang-orang bilang… ada yang masuk ruang isolasi itu, tapi nggak pernah keluar.”

Aku tercekat. “Jadi… pintu abu-abu itu—”

“Itu dulunya pintu ruang isolasi,” potong Pak Arman cepat. “Sekarang dipakai gudang, katanya. Tapi aku tahu, Nak. Pintu itu nggak pernah benar-benar kosong.”


Aku ingin bertanya lebih banyak, tapi langkah seseorang mendekat. Pak Arman langsung diam, wajahnya kembali datar. “Sudahlah. Anggap saja nggak ada.”


---


Sore harinya, aku mencoba mengakses komputer kantor untuk mencari arsip lama. Dengan alasan pekerjaan, aku membuka folder-folder lama. Dan benar saja, aku menemukan file PDF berjudul *“Riwayat Gedung Lama”*.


Aku membukanya dengan jantung berdegup.


Isi file itu adalah dokumen resmi: laporan pemindahan kepemilikan gedung. Di bagian lampiran, tertulis:


> *“Ruang isolasi lantai enam diputuskan untuk ditutup permanen. Tidak ada aktivitas lebih lanjut di dalam ruangan tersebut. Akses dilarang bagi seluruh staf kecuali pihak tertentu dengan izin khusus.”*


Aku menatap layar lama, tak percaya. Jadi, perusahaan memang tahu. Mereka sengaja menutupinya dengan tulisan sederhana: *“Dilarang Masuk Selain Karyawan.”* Padahal sebenarnya, itu **ruang isolasi bekas rumah sakit.**


Dadaku berdebar kencang. Suara-suara, bisikan, cahaya… semuanya mulai masuk akal.


---


Malam itu, aku lagi-lagi lembur. Dan seperti biasa, lorong belakang memanggilku.


Aku berjalan perlahan, mendekat ke pintu abu-abu itu. Tanganku menggenggam catatan kusam yang kutemukan kemarin. Kata-katanya berputar-putar di kepalaku: *“Ada sesuatu yang hidup di baliknya. Jangan sendirian dekat pintu.”*


Tapi aku memang sendirian sekarang.


Aku berdiri tepat di depan pintu. Kupandangi huruf merah itu lama-lama. Dan semakin lama, huruf-huruf itu terasa bergerak. Seperti berdenyut.


Lalu tiba-tiba—*tok, tok, tok.*


Ketukan itu lagi. Tiga kali. Tepat seperti kemarin.


Aku membeku. Napas tercekat.


Dan kemudian, suara itu muncul. Kali ini lebih jelas, lebih dekat.


“…Andi… masuklah… kami menunggumu…”


Aku mundur selangkah, gemetar. Tapi di saat yang sama, aku sadar sesuatu. Suara itu bukan sekadar panggilan. Itu **suara banyak orang.** Ada lebih dari satu. Seperti puluhan suara berbisik bersamaan, menyebut namaku.


Aku berlari sekuat tenaga meninggalkan lorong itu.


Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku yakin satu hal: **pintu itu bukan sekadar pintu. Itu adalah gerbang.**


Gerbang menuju sesuatu yang seharusnya tidak pernah kubuka.


---

Comments

Popular posts from this blog

Pintu yang Mulai Terbuka

Pilihan yang Mustahil

Bayangan yang Mengikuti