Hari Pertama Kerja


---


# Bab 1: Hari Pertama Kerja


Pagi itu, matahari Jakarta seakan sudah tahu kalau aku akan memulai hari penting. Teriknya menusuk kulit meski jam masih menunjuk pukul tujuh lewat tiga puluh. Kemeja putih yang kupakai—hasil setrikaan buru-buru malam tadi—sudah mulai menunjukkan bercak kecil keringat di bagian punggung. Celana kain hitamku masih agak kaku, tanda baru sekali dipakai. Aku menatap cermin di lobi gedung perkantoran itu, menarik napas panjang, lalu berkata pada diriku sendiri, “Inilah, dunia orang kantoran. Jangan kelihatan kampungan, ya.”


Gedung itu tidak terlalu tinggi, hanya sepuluh lantai, tapi bagiku terasa seperti istana. Pintu kacanya berlapis stiker bertuliskan “Selamat Datang”, tapi di balik sambutan hangat itu, ada satu tanda lain yang segera menyita perhatianku: **sebuah pintu abu-abu di sisi kiri lobi, dengan huruf kapital merah menyala bertuliskan “DILARANG MASUK SELAIN KARYAWAN”.**


Aku berhenti sejenak, menatapnya. Ada hawa misterius dari pintu itu. Kenapa harus dipasang begitu besar? Kenapa tidak pakai kata yang lebih halus? Lagipula, bukankah semua yang masuk ke gedung ini, otomatis karyawan? Lalu, siapa yang sebenarnya ingin masuk ke sana?


“Mas, mari ikut saya,” suara seorang satpam memecah lamunanku. Aku buru-buru mengangguk dan meninggalkan rasa penasaran itu.


Namaku **Andi Pratama**, 23 tahun, baru lulus kuliah jurusan Administrasi Bisnis. Setelah berbulan-bulan melamar kerja, akhirnya aku diterima di perusahaan distribusi alat tulis bernama **PT Cahaya Pena Abadi**. Tugas utamaku katanya sederhana: urusan administrasi, input data, membantu bagian gudang. Tapi yang namanya hari pertama, semuanya terasa asing, menegangkan, sekaligus bikin perut mulas.


Aku mengikuti satpam menuju lift. Di dalam, beberapa karyawan lain sudah berdiri rapi. Ada yang sibuk scroll ponsel, ada yang membawa map tebal. Aku tersenyum kecil mencoba ramah, tapi hanya dibalas anggukan singkat. Wajah-wajah mereka dingin, seolah sudah terbiasa dengan rutinitas. Aku merasa seperti anak baru di sekolah yang salah masuk kelas.


Lift berhenti di lantai enam. Di sinilah ruanganku. Seorang wanita berusia sekitar 30-an menjemputku. Namanya **Mbak Sari**, staf HRD. Dengan senyum tipis ia berkata, “Selamat bergabung, Andi. Hari ini orientasi singkat saja, ya.”


Aku mengangguk sopan. Meja kerjaku ternyata ada di dekat jendela. Lumayan strategis: bisa lihat gedung-gedung lain, sekaligus jalanan macet di bawah. Komputer sudah menyala, kertas formulir sudah siap. Mbak Sari menjelaskan aturan dasar: jam masuk, jam pulang, absen fingerprint, dan—yang paling penting—**ruangan mana yang boleh diakses dan mana yang tidak.**


“Kalau kamu butuh ke toilet, ada di ujung lorong. Pantry juga di sebelahnya. Tapi ingat ya, ada satu ruangan di dekat gudang yang bertuliskan *Dilarang Masuk Selain Karyawan*. Jangan sekali-kali coba buka. Itu aturan perusahaan.”


Aku langsung merinding. Itu persis tulisan yang kulihat di lobi tadi. Tapi sebelum sempat bertanya lebih jauh, Mbak Sari sudah berpindah topik ke urusan administrasi.


Hari pertama berjalan biasa-biasa saja. Aku dikenalkan ke beberapa rekan: Pak Budi bagian logistik, yang suaranya keras seolah sedang menegur padahal hanya mengucapkan salam; lalu Dina, karyawan magang yang seumuran denganku tapi terlihat jauh lebih luwes. Mereka cukup ramah, meski aku bisa merasakan ada jarak. Seperti ada “kode tak tertulis” bahwa anak baru harus melalui masa uji coba sosial sebelum dianggap bagian dari mereka.


Menjelang siang, aku turun ke pantry untuk mengambil air minum. Di sana, beberapa karyawan sedang bergosip. Aku duduk sambil pura-pura main HP, tapi telingaku tajam menangkap pembicaraan.


“Eh, kemarin ada cleaning service baru, ya?” suara seorang pria berambut cepak.

“Iya, tapi aneh. Katanya cuma sehari, besoknya langsung nggak datang lagi,” jawab seorang wanita.

“Katanya sih… dia salah masuk ruangan itu.”

“Yang *dilarang masuk* itu?”

“Iya. Besoknya nggak balik lagi. Entah resign atau…” suaranya mengecil, “…dipecat.”


Aku tercekat. Ruangan itu lagi. Ada apa sebenarnya di balik pintu dengan tulisan mengancam itu?


Aku meneguk air putih, berusaha tenang. Dalam hati, rasa penasaran membesar. Seperti ada magnet yang menarikku. Kenapa semua orang bicara dengan nada misterius setiap kali ruangan itu disebut? Apa mungkin hanya ruangan arsip biasa, tapi dilebih-lebihkan? Atau gudang barang rusak? Atau—pikiran liarku berlari jauh—tempat penyimpanan rahasia perusahaan?


Sore hari, saat jam kerja hampir selesai, aku memberanikan diri berkeliling. Lorong kantor cukup sepi karena sebagian karyawan sudah sibuk merapikan meja. Aku berjalan ke arah gudang di ujung, berpura-pura mencari toilet. Dan di sanalah aku melihatnya lagi: **pintu abu-abu dengan tulisan merah itu.**


Aku berdiri beberapa meter di depannya. Jantungku berdetak lebih cepat. Dari dekat, pintu itu terlihat lebih menyeramkan. Catnya sedikit terkelupas di pinggir, gagangnya berkarat. Tulisan “DILARANG MASUK SELAIN KARYAWAN” seperti menatap balik, mengintimidasi.


Tiba-tiba, ada suara langkah kaki di belakangku. Aku menoleh. Pak Budi, logistik, sedang lewat sambil membawa kotak kardus. Ia melirikku sebentar lalu berkata singkat, “Jangan lama-lama di situ. Bahaya.”


Aku tersentak, buru-buru menjauh.


Malamnya, saat pulang, bayangan pintu itu terus menghantui pikiranku. Bahkan di dalam bus, aku masih membayangkan: kenapa ada aturan keras seperti itu? Kenapa orang yang masuk malah hilang? Apa yang disembunyikan perusahaan?


Aku berbaring di kasur kosan, menatap langit-langit, lalu bergumam, “Aku harus tahu. Cepat atau lambat, aku akan buka pintu itu.”


Dan di sanalah cerita sebenarnya dimulai.


---

Comments

Popular posts from this blog

Pintu yang Mulai Terbuka

Pilihan yang Mustahil

Bayangan yang Mengikuti