Bisik-Bisik di Lorong

Bisik-Bisik di Lorong


---


# Bab 2: Bisik-Bisik di Lorong


Hari kedua kerja biasanya lebih tenang, begitu katanya. Tapi bagiku, rasanya justru semakin aneh. Aku bangun pagi dengan pikiran penuh tentang pintu abu-abu itu. Mimpi semalam pun ikut-ikutan aneh: aku bermimpi berdiri di depan pintu itu, mengetuk, lalu terdengar suara berbisik dari baliknya. Suara lirih yang hanya berkata, *“Masuklah… kalau berani.”*


Aku terbangun dengan keringat dingin. Rasanya tidak mungkin mimpi itu kebetulan. Pintu itu jelas sudah menempel di kepalaku.


Sesampainya di kantor, aku mencoba fokus bekerja. Pagi ini tugasku adalah memasukkan data stok barang ke sistem. File Excel yang kuterima dari Pak Budi penuh angka. Aku mengetik dengan teliti, meski sebenarnya pikiranku separuh masih melayang ke pintu misterius itu.


Sekitar jam sepuluh, aku izin ke toilet. Lorong menuju toilet melewati pantry. Dan di pantry itulah aku tanpa sengaja mendengar lagi percakapan yang membuat bulu kudukku meremang.


Dina, si karyawan magang, sedang berbicara dengan Mbak Sari dari HRD. Suaranya cukup pelan, tapi karena pantry sepi, jelas terdengar.


“Mbak, beneran ya ada ruangan terlarang di kantor ini?” tanya Dina sambil menuang kopi.

Mbak Sari menoleh cepat, ekspresinya tegang. “Sstt… jangan bicara keras-keras.”

“Tapi saya cuma penasaran, Mbak. Kok banyak gosip. Katanya ada yang pernah…” Dina berhenti, lalu menurunkan suaranya, “…hilang?”

Mbak Sari menatap tajam, lalu berbisik, “Dengar ya, Din. Ada hal-hal yang sebaiknya nggak kamu gali kalau mau kerja tenang di sini. Fokus saja ke tugasmu. Jangan sampai seperti yang kemarin-kemarin.”


Aku pura-pura cuci tangan, padahal telingaku tajam menangkap setiap kata. Jantungku berdegup kencang. Jadi, bukan hanya aku yang penasaran. Bahkan anak magang lain juga mendengar gosip itu.


Sepulang dari toilet, aku kembali ke meja. Tapi kali ini aku tidak bisa lagi menahan diri. Saat jam istirahat, aku menghampiri Dina.


“Din,” kataku pelan, “tadi aku dengar kamu tanya soal ruangan terlarang itu.”

Dina menatapku curiga, lalu tersenyum kecut. “Mas Andi juga penasaran, ya?”

“Ya… soalnya aneh banget. Dari kemarin aku lihat pintunya, rasanya… nggak biasa.”

Dina menunduk, lalu berbisik, “Aku dengar dari anak cleaning service. Katanya dia pernah coba buka. Tapi baru pegang gagangnya aja, langsung didatengin satpam. Besoknya dia nggak kerja lagi.”

Aku menelan ludah. “Satpam?”

“Iya. Katanya sih mereka sengaja berjaga di situ. Tapi anehnya, aku pernah lihat malam-malam… pintu itu kayak ada cahaya dari dalamnya. Padahal lampu lorong mati.”


Aku membeku. Cahaya dari dalam? Apa maksudnya?


Dina buru-buru berdiri, mengakhiri percakapan. “Udah ah, jangan dibahas. Nanti kalau ada yang denger, bisa bahaya buat kita.”


Hari itu aku bekerja dengan hati gelisah. Angka-angka Excel terasa seperti kode rahasia yang tak bisa kupahami. Setiap kali aku berkonsentrasi, bayangan pintu abu-abu itu selalu muncul. Kata-kata Dina bergema di kepalaku: **cahaya dari dalam.**


Menjelang sore, aku dipanggil Pak Budi untuk membantu mengantar dokumen ke gudang. Deg-degan, aku ikut dia berjalan ke lorong belakang. Dan benar saja, jalannya melewati pintu itu.


Aku melirik sekilas. Pintu itu berdiri tenang, seakan tahu aku sedang mengamatinya. Huruf merahnya masih menyala menantang. Tanganku refleks ingin menyentuh gagang pintunya. Tapi sebelum sempat, suara berat Pak Budi menggelegar.


“Andi!”

Aku tersentak. “I-iya, Pak?”

“Jangan pernah mendekat ke situ,” katanya dingin. “Kalau masih mau kerja di sini, jauhi pintu itu.”


Aku menelan ludah, menahan keinginan untuk bertanya. Sorot mata Pak Budi serius, tak ada nada bercanda sedikit pun. Ia lalu melangkah cepat, meninggalkanku yang masih terpaku di depan pintu terlarang itu.


Malamnya, aku kembali ke kosan dengan kepala penuh pertanyaan. Apa sebenarnya isi ruangan itu? Kenapa semua orang begitu takut membicarakannya? Kenapa harus ada larangan sekeras itu?


Aku membuka laptop, mencoba mencari tahu. Kuketik nama perusahaan di Google, kutambahkan kata kunci “ruangan terlarang”. Hasilnya nihil. Tidak ada yang membicarakan. Seakan-akan semua orang yang tahu memilih diam.


Aku bersandar di kursi, menghela napas. Pintu itu bukan pintu biasa. Ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang membuat orang takut, sesuatu yang membuat orang diam, bahkan mungkin menghilang.


Dan entah kenapa, rasa takutku semakin bercampur dengan rasa penasaran.


Aku menutup laptop, lalu berbisik pada diriku sendiri, “Aku harus lihat dengan mataku sendiri. Cepat atau lambat, pintu itu akan kubuka.”


---

Comments

Popular posts from this blog

Pintu yang Mulai Terbuka

Pilihan yang Mustahil

Bayangan yang Mengikuti